Membangun Ekosistem Seni Tanpa Dewan Kesenian Nasional
Di Indonesia, ketiadaan dewan kesenian nasional tidak menghalangi ekosistem seni untuk terus berkembang.
Ekosistem ini berkembang secara organik berkat sosok-sosok berpengaruh seperti Ibu Aan. Izinkan saya untuk memperkenalkan beliau lewat beberapa proyek (dan aksi brilian) yang telah ia lakukan selama 20 tahun terakhir.
- Artsociates — Perusahaan manajemen seni dan seniman yang didirikan pada 2007 untuk mempromosikan seniman lokal. Ibu Aan memulai dengan menggelar kompetisi arsitektur untuk desain rumah, yang kemudian ia bangun dan ternyata mendapat pujian luas. Saat dijual setahun kemudian, hasilnya menjadi sumber pendanaan pertama bagi Artsociates.
- Dalam pertukaran yang sangat publik, ia membarter sebuah karya etsa oleh Tisna Sanjaya dengan mobil mewah, untuk menunjukkan nilai seni kontemporer.
- Bandung Contemporary Art Awards — kompetisi seni dua tahunan yang baru-baru ini mengubah formatnya dari open call menjadi nominasi oleh komite terdiri dari kolektor, seniman, kurator, dan akademisi, menyatukan para pemangku kepentingan seni.
- LawangWangi Creative Space dan Hybridium — art/gallery café yang menyelenggarakan pameran, diskusi seniman, dan workshop.
- Collaborea Art & Design — studio berbasis komisi yang memproduksi karya seni dan objek desain terinspirasi oleh seni.
- Kompleks museum yang masih dalam perencanaan akan didedikasikan untuk seniman-seniman Indonesia terkemuka, untuk memastikan warisan mereka akan tetap terjaga.
- Sebagai kolektor, Ibu Aan menyimpan koleksi yang penuh makna dan mencerminkan gejolak sosial zaman, seperti lukisan yang menggunakan lumpur dari bencana Sidoarjo.
Semangat yang diwujudkan menjadi aksi.